Another Templates

Selasa, 22 Maret 2011

AS: Rakyat Libya yang Harus Gulingkan Khadafi



Barack Obama berjabat tangan dengan Pemimpin Libya, Muammar Khadafi pada 2009 (AP Photo/Michael Gottschalk, Pool)

VIVAnews - Pasukan Koalisi Internasional dalam tiga hari berturut-turut gencar melancarkan serangan udara dan rudal ke posisi-posisi militer Muammar Khadafi. Namun, Amerika Serikat (AS) menegaskan, Koalisi tidak berkepentingan untuk menembak pemimpin Libya itu. Tugas menggulingkan Khadafi harus dilakukan rakyat Libya yang memberontak.

Menurut kantor berita Associated Press (AP), pesawat tempur dan rudal jelajah Koalisi menggempur fasilitas pertahanan udara dan militer yang digunakan rezim Khadafi pada Senin malam waktu Libya (Selasa dini hari WIB). Menurut sumber AP, serangan sejak Sabtu pekan lalu itu telah melumpuhkan lebih dari 50 persen kekuatan udara Khadafi.

Pasukan Koalisi, yang digalang AS, Inggris, dan Perancis, berencana memperluas jangkauan zona larangan terbang. Saat ini, cakupan zona itu baru pada kawasan pesisir Libya dan di sekitar Benghazi, kota terbesar kedua Libya yang menjadi basis pemberontakan anti Khadafi.

Namun, seperti yang telah diutarakan Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, Presiden Barack Obama menegaskan misi Koalisi bukanlah menyingkirkan Khadafi, melainkan menerapkan zona larangan terbang, sesuai dengan amanat Resolusi Dewan Keamanan PBB 1973.

Penerapan zona itu bertujuan melindungi rakyat Libya dari serangan udara rezim Khadafi. "Kami tetap mengacu pada mandat itu," kata Obama, yang tengah berkunjung ke Cile. Namun, menurut pejabat militer AS, Pasukan Koalisi juga akan bertindak bila pasukan darat Khadafi melakukan serangan atas pemberontak.

Di tengah kunjungan ke Rusia, Gates mengatakan, salah besar bila dikatakan misi pasukan Koalisi adalah menembak Khadafi. "Menurut saya, jelas bagi semua pihak di Libya bahwa situasi akan lebih baik bila tanpa Khadafi. Masalah itu hanya bisa diputuskan rakyat Libya sendiri," kata Gates.

Menurut Gates, situasi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir seharusnya bisa dimanfaatkan rakyat Libya yang memberontak untuk segera menggulingkan rezim Khadafi, yang telah berkuasa melalui kudeta militer pada 1969.

AS juga menegaskan bahwa mereka tidak akan mengirim pasukan darat ke Libya dan tidak juga mengirim bantuan persenjataan ke pihak pemberontak.

Serangan atas Libya dimulai pada Sabtu pekan lalu, 19 Maret 2011. Kapal perang AS dan Inggris saat itu menembakkan 112 rudal jelajah Tomahawk ke target-target militer Libya. Selanjutnya pesawat AS -di antaranya pengembom siluman B-2 dan jet-jet tempur Marinir- bersama dengan pesawat-pesawat Perancis melakukan serangan udara.

Kekuatan Koalisi pada awalnya beranggotakan AS, Inggris, Perancis, Italia, dan Kanada. Namun ada dua negara yang baru bergabung, yaitu Belgia dan Qatar. (adi) 
• VIVAnews

0 komentar:

Poskan Komentar