Another Templates

Jumat, 28 Januari 2011

Lima Simpatisan WikiLeaks Ditangkap Polisi


“Kalian dapat dengan mudah menahan seseorang, tapi kalian tak bisa bendung ideologi kami"

Pusat penyimpanan server Wikileaks (www.bahnhof.se)

VIVAnews - Polisi Inggris menangkap lima pemuda yang diduga sebagai simpatisan laman pembocor rahasia pemerintah AS, WikiLeaks. Mereka dicurigai meretas jaringan internet milik beberapa perusahaan yang sebelumnya memutuskan kerjasama dengan WikiLeaks.

Gara-gara ulah mereka, situs-situs internet perusahaan itu tidak dapat diakses selama beberapa waktu. Menurut harian The Guardian, kelima peretas (hacker) berusia 15 hingga 26 tahun itu dicokok polisi pada Jumat pagi waktu setempat.

Mereka diduga terlibat dengan kelompok hacker Anonymous, yang membuat lumpuh laman MasterCard, Visa dan PayPal yang memblokir aliran dana ke WikiLeaks. Langkah itu mereka lakukan saat WikiLeaks  mulai mempublikasikan bocoran memo diplomatik pemerintah Amerika Serikat ke seluruh dunia.

Kelompok hacker ini mengirimkan seorangan Distributed Denial of Services (DDoS), yang bekerja dengan cara memborbardir situs dengan permintaan akses secara berturut-turut. Tindakan ini ilegal berdasarkan undang-undang penyalahgunaan komputer di Inggris, pelakunya dapat didenda hingga 5.000 poundsterling atau sekitar Rp71 juta.

Menyusul penangkapan lima anggotanya, Anonymous mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan kesalahan telah menahan lima orang tersebut. Anonymous menyatakan bahwa penangkapan mereka telah membunyikan genderang perang dengan pemerintah.

“Kalian dapat dengan mudah menahan seseorang, tapi kalian tidak akan bisa menahan ideologi kami. Kami disatukan dengan tujuan yang sama dan kami dapat dan akan melampaui batas untuk mencapainya,” ujar pernyataan Anonymous kepada pemerintah Inggris.

“Jadi saran kami kepada kalian, pemerintah Inggris, adalah menyebarkan pernyataan ini sebagai peringatan serius dari warga dunia. Kami tidak akan berhenti sampai kawan kami dibebaskan,” lanjut pernyataan itu lagi.

Saat ini, Anonymous tengah mendukung revolusi di Tunisia dan Mesir. Mereka telah melancarkan serangan terhadap sepuluh situs pemerintah Tunisia dan empat situs pemerintah Mesir.

Serangan ini menyusul diblokirnya akses para warga ke laman-laman jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter karena dinilai alat yang efektif dalam mengumpulkan massa.

0 komentar:

Poskan Komentar